Alam Budidaya Ulat Sutera (Tugas Penilaian Hutan) Fakultas Kehutanan USU
BUDIIDAYA ULAT SUTERA
Dosen
Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Alamuddin
Sahputra
171201011
MNH
5
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
Ulat
sutera termasuk Ordo Lepidoptera mencakup semua jenis kupu dan ngengat yang
selama hidupnya mengalami siklus metamorfosis sempurna dari telur, larva, pupa,
dan imago. Nilai ekonomi ulat sutera dimulai dari pemanfaatan kokon yang
membungkus pupa sebagai sumber serat sutera. Usaha peternakan ulat sutera
merupakan usaha yang memiliki prospek tinggi karena harga sutera yang relatif
tinggi dibandingkan kain yang lain dan permintaan terhadap kain sutera pun
cukup tinggi. Hanya saja potensi yang tinggi tersebut tidak diikuti oleh
produksinya. Ketua Asosiasi Sutera Indonesia (ASSIA) (2014) menyatakan bahwa
Indonesia hanya mampu memenuhi pasokan benang sutera dalam negeri sebesar 5%
dari total kebutuhan 900 ton/tahun, sedangkan 95% diimpor dari Cina. Kemampuan
produksi yang rendah tersebut, salah satunya disebabkan oleh produktivitas yang
rendah. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas ulat sutera antara
lain adalah genetik dan lingkungan (Atmosoedarjo et al., 2000). Indonesia
merupakan negara kepulauan dengan topografi wilayah yang beragam. Kepulauan
Indonesia terdiri dari dataran rendah, dataran tinggi dan pegunungan.
Keberagaman topografi tersebut menyebabkan tingkat produktivitas yang berbeda
pada ulat sutera. Indonesia mempunyai dua Pusat Pembibitan Ulat Sutera (PPUS)
diSoppeng (Sulawesi Selatan) dan Candiroto (Jawa Tengah) yang menghasilkan ras
BS-09. Ras tersebut merupakan hasil persilangan ras Cina dan Jepang yang
diperuntukkan untuk peternak ulat sutera di Indonesia (Endrawati, 2018).
Persuteraan
alam merupakan kegiatan agroindustri yang mempunyai rangkaian yang cukup
panjang sejak penanaman pohon sumber pakan ulat sutera, pembibitan ulat sutera,
pengolahan kokon, pemintalan serat dan penenunan (Departemen Kehutanan RI,
1999). Ulat sutera adalah salah satu komoditas yang cukup penting dalam
menyumbang perolehan devisa negara. Saat ini per-mintaan kokon dan benang
sutera di pasa-ran dunia semakin meningkat sehinggga telah memberikan peluang
yang sangat prospektif bagi persuteraan alam. Saat ini, daun murbei dapat
digantikan keberadaannya dengan singkong sebagai pakan ulat sutera. Hal ini
mengingat secara nasional Kabupaten Wonogiri merupakan penyuplai komoditas
terbaik untuk sektor pertanian diantaranya ubi kayu dengan daunnya yang dapat di-manfaatkan
sebagai sumber pakan ulat sutera. Untuk memperoleh hasil yang maksimal kegiatan
tersebut perlu di-tunjang oleh pengadaan sarana yang cukup, teknik yang memadai
dan pemasa-ran yang terjamin, sehingga keterlibatan pemerintah, swasta maupun
petani sangat diharapkan (Mutiara, 2017).
Pada
dasarnya persuteraan alam merupakan suatu rentetan kegiatan berupa kegiatan
morikultur, yakni usaha budidaya tanaman murbei, dan kegiatan serikultur yang
meliputi proses produksi dari telur sutera sampai dengan memanen kokon.
Selanjutnya dilakukan kegiatan pemintalan, yakni dari pengolahan kokon sampai
dipintal menjadi benang, kemudian dilakukan penenunan yang menggunakan bahan
benang sutera (Anonimb, 2008). Untuk memperoleh hasil yang maksimal, kegiatan
persuteraan alam perlu ditunjang oleh pengadaan sarana dan prasarana yang
cukup, teknik budidaya yang memadai, dan pemasaran produk yang terjamin. Dengan
demikian, keterlibatan pemerintah, swasta, maupun petani sangat diharapkan. Usaha
sutera alam termasuk pada usaha yang relatif mudah dikerjakan, berteknologi
sederhana, bersifat padat karya, cepat menghasilkan dan bernilai ekonomis
tinggi. Kegiatan persuteraan alam juga merupakan salah satu upaya rehabilitasi
lahan dan konservasi tanah, serta merupakan salah satu kegiatan yang dapat
meningkatkan daya dukung dan produktivitas lahan terutama pada lahan-lahan yang
belum optimal dimanfaatkan (Nurjayanti, 2011).
BAB
II
ISI
1.
Klasifikasi
Ilmiah Ulat Sutera
Ngengat sutra, ulat sutra, atau sutera (Bombyx mori: "ulat murbei")
adalah ngengat yang
memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai penghasil serat/benang sutra.
Makanan ulat sutra hanyalah daun murbei (Morus
alba). Ia berasal dari utara Tiongkok.Telur
ngengat sutra membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk menetas. Ulatnya
membentuk kepompong sutra
mentah, yang setelah dipintal bisa menghasilkan benang sutra sepanjang 300
hingga 900 meter per
kepompong. Seratnya berdiameter
sekitar 10 mikrometer.
Sebagaimana umumnya larva / ulat, ulat sutra sangat rakus; makan sepanjang
siang dan malam sehingga tumbuh dengan cepat. Apabila warna kepalanya sudah
menjadi semakin gelap, ulat sutra akan segera berganti kulit/cangkang.
Dalam
hidupnya, ulat sutra mengalami empat kali ganti kulit, hingga berwarna
kekuningan dan lebih ketat, yang menjadi tanda akan segera membungkus diri
dengan kepompong. Sebelum ulat sutra menjadi matang dan keluar dari
kepompongnya (kepompong digigiti hingga rusak dan tidak bernilai ekonomi),
kepompong tersebut kemudian direbus untuk membunuh ulat sutra dan memudahkan
penguraian seratnya. Adapun kupu-kupu dewasa yang dipelihara untuk bibit ulat
sutra tidak bisa terbang. Karena sejarahnya yang panjang dan nilai ekonominya
yang tinggi, genom ulat
sutra menjadi salah satu objek penelitian ilmiah.
B. Manfaat
Ekonomi Ulat Sutera
·
Secara Umum
Ulat sutra yang
biasanya memakan daun murbei kini dibudidayakan dengan memakan daun singkong
karet. Kendati daun singkong karet lebih murah, namun ulat tersebut ternyata
mampu menghasilkan serat. Jika dipintal ternyata bisa menjadi kain sutra yang
kualitasnya sama bagusnya dengan ulat sutra pemakan daun murbei.
Kepompong ulat
sutra atau disebut juga kokon, ternyata tengah diupayakan oleh tim peneliti
untuk dijadikan komponen utama obat penambah stamina. Ulat sutera pemakan daun
singkong itu dikembangkan di Kabupaten Wonogiri. Pengembangan ulat sutera jenis
samia cynthia ricini, memiliki nilai yang sangat strategis untuk meningkatkan
ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. Sebab, ulat itu tidak memakan daun
murbei seperti ulat sutera biasa. Melainkan mampu memakan daun singkong karet yang banyak terdapat di
Wonogiri.
·
Secara Ekonomi
Beberapa produk
dan manfaat dari ulat sutera tersebut telah menghasilkan manfaat ekonomi dari
segi prnghasilan dan produksi, berikut adalah bagian-bagiannya:
1. Kokon
atau kepompong ulat sutra memiliki pH atau derajat keasaman yang hampir sama
dengan kulit manusia. Ini membuat kokon cocok digunakan untuk perawatan wajah.
Selain itu, kokon juga memiliki jumlah asam amino yang hampir sama dengan yang
dimiliki oleh kulit manusia. Saat direndam, kokon akan mengeluarkan
"sericin" yang merupakan protein yang mengandung 18 asam amino baik
untuk kulit. Penggunaan kokon ini pun sebenarnya sudah lama digunakan oleh
perempuan Jepang. Saat ini kokon sutra menjadi tren kecantikan pada perempuan
Asia seperti di Jepang dan Korea.
2. Mudah
dilaksanakan dan memberikan hasil dalam waktu yang relatif singka dalam
produksi dan budidayanya.
3. Memberikan
tambahan pendapatan kepada masyarakat khusunya di pedesaan.
4. Memberikan
lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya;
5. Mendukung
kegiatan reboisasi dan penghijauan.\
6. Manfaat
medis, yaitu ulat sutra yang digunakan untuk pengobatan tradisional China
adalah “Bombyx batryticatus” atau “ulat sutra kaku” (Hanzi sederhana,
tradisional: pinyin: āngcán). Ia adalah larva kering 4–5th yang mati akibat
penyakit muskadin putih disebabkan oleh jamur Beauveria bassiana, dimanfaatkan
untuk mengobati masuk angin, mencairkan dahak dan meringankan kejang-kejang.
7. Manfaat
untuk Makanan, yaitu ulat sutra dikonsumsi di sejumlah kebudayaan. Di Korea,
ulat sutra yang direbus sertadibumbui merupakan makanan ringan yang populer dan
dikenal sebagai beondegi. Di China, sejumlah pedagang jalanan menjual ulat
sutra yang dipanggang.
C.
Cara Budidaya Ulat Sutera
Ulat sutera atau
ulat murbei meuakan salah satu jenis
serangga dari jenis ulat yang memang dari sisi pendapatan memiliki nilai yang
cukup tinggi karena ulat ini merupakan salah satu ulat penghasil serat benang
sutera. mengapa di sebut dengan nama ulat murbei , karena ulat jenis ini makan
dari daun murbei dan tidak menyukai jenis daun
lainnya. Ada beberapa hal yang perlu anda pahami ketika ingin beternak
ulat sutera ini , yaitu perkembangan dari pada ulat sutera ini membutuhkan
waktu sekitar 10 hari untuk menetas yang berbeda dengan Budidaya Ulat Hongkong
. setelah menetas kemudian akan menjadi ulat dan membentuk kepompong mentah.
Setelah
si ulat masuk ke dalam tahap menjadi kepompong mentah , disitulah kepompong
mentah akan di pintal bagian benang sutera yang sekitar panjang 300 meter
sampai dengan 900 meter. Serat dari pada benang sutera yagn di hasilkan ketika
di pintal biasanya memiliki diameter sekitar 10 mikrometer. Dalam hal makan ,
ulat sutera ini termasuk ulat yang rakus . ulat ini makan sepanjang hari selagi
stok makanan yang ada di sekitarnya masih ada. Memang ke rakusan dari pada ulat
sutera ini berdampak kepada pertumbuhan dan juga perkembangan ulat yang cukup
pesat dengan mengalami 4 fase ganti kulit yang berbeda dengan Cara Cepat Ternak Ulat Kandang .
Seperti contoh
adalah hasil dari pada benang sutera itu sendiri adalah kain sutera yang biasa
di pakai untuk bahan pakaian kelas menengah ke atas yang memiliki tampilan dan
kenyamanan berpakaian yang cukup baik. Sehingga nilai jual dari pada kain
sutera sampai dengan pakaian yang berbahan dasar dari pada benang sutera ini
cukup tinggi. Berikut adalah penjelasan terhadap 5 cara ternak ulat sutera yang
bisa anda ikuti ketika memang berniat beternak ulat sutera:
1. Persiapan Kandang Ulat Sutra
Kriterianya sendiri adalah sebuah
ruangan yang cukup besar untuk meng akomodir banyaknya ulat sutera yang akan
kita budidayakan yang di lengkapi dengan ventilasi yang baik. Fungsi dari pada
ventilasi yang baik adalah untuk sirkulasi udara dan juga cahaya masuk ke dalam
ruangan , sehingga biasanya memiliki jendela yang cukup. Bentuk dari pada
kandang ulat sutera ini juga bisa di buat dari kayu dan juga bambu yang di
bentuk seperti rak-rak tempat ulat hidup.
Namun sebelum rak atau
kandang ulat sutera di diami oleh ulat alangkah lebih baiknya tempat itu sudah
di sterilkan dari ancaman beberapa zat berbahaya yang akan mengancam
perkembangan si ulat sutera ini. caranya bisa dengan menyemprotkan beberapa
cairan seperti larutan kaporit ata juga bisa dengan cairan formalin yang bisa
di beli di toko bahan – bahan kimia yang dimana kadarnya masing-masing 0,5% dan
juga 3%. Dalam membuat raknya pun tidak perlu kayu yang bagus dan kokoh karena
berat dari pada ulat ini tidak begitu membebani alas ataupun rak itu sendiri.
2. Bibit Ulat Sutra
Beberapa tips di antaranya adalah dengan
memilih bibit telur ulat sutera yang baik dan juga unttul. dalam pemilihannya
sendiri , bibit ulat sutera di lakukan 10 – 12 hari sebelum pembudidayaan di
mulai. Selain itu, pilihlah bibit telur ulat sutra yang baik. Pemilihan bibit
ini dilakukan 10-12 hari sebelum pemeliharaan dimulai. Dan lakukanlah tahap
atau juga masa inkubasi terhadap telur dari pada ulat sutra agar penetasaan
beragam. Tahap dari pada inkubasi itu sendiri adalah dengan memasukan bbit ulat
sutera ke dalam kotak yang tertutup dengan kertas putih yang cukup tipis yang
kemudian di simpan di dalam ruangan dengan suhu sekitar 25 – 28 derajat celcius
dengan intensitas kelembaban ruangan yaitu 75 % – 80 %.
Selain itu pastikan
juga bahwa si kotak yang sudah berisi telur ulat sutera ini terhindar dari
sorot sinar matahari secara langsung. Apabila pada m asa ini telur ulat sutera
terlihat seperti ada tanda bintik berwarna biru , segeralah untuk mengganti
penutup kain putih tadi dengan kain hitam yang kemudian diamkan selama 2 hari.
3.
Pemberian Pakan Ulat Sutra
Setelah ulat sutera mulai berkembang
dari kecil sampai persiapan menjadi kepompong , persiapan ataupun tahap ini
merupaan tahap yang sangat serius dan butuh perhatian yang khusus karena dari
pakan ini lah yang akan menentukan hasil dari pada benang sutera yang di
hasilkan. Selain itu juga di karena ulat sutera termasuk serangga yang rakus
dan selalui ingin makan , sehingga jangan sampai anda melewatkan atau
terlupakan memberi pakan terhadap ulat sutera ini.
Meskipun perlu
perhatian khusus namun , pemberian makan ulat sutera sangatlah mudah karena
ulat ini hanya mau makan daun dari pohon murbei saja sehingga kita tidak perlu
repot mencari jenis-jenis pakan tertentu. Dalam pemberian pakannya pun bisa
berdasakan ukuran ataupun umur dari pada ulat sutera ini. untuk ulat yang masih
kecil atau memiliki tubuh yang kecil bisa di berikkan sekitar 300 – 400 kg daun
murbei yang sudah kita petik sehingga tanpa cabang, danuntuk ulat yang dewasa
atau berukuran besar bisa di berikan 2 – 3x lipat yaitu antara 1000 kg – 1300
kg daun murbei yang sama kita sudah petik sehingga tanpa cabang.
4. Proses Pemeliharaan Ulat Sutra
Dalam tahap ini kita perlu
memperhatikan pola hidup dan keinginan dari pada ulat sutera ini seperti
banyaknya makan , ulat sutera ini makan setidaknya 3 kali sehari di pagi ,
siang dan juga malam hari. Kemudian setelah makan yang cukup banyak ulat sutera
akan masuk ke dalam fase hibernasi atau mungkin lebih tepat di sebut masa tidur
setelah kurang lebih 4 hari. Dalam masa ini lah yang dimana kita harus siagap
untuk menaburi ulat dengan kapur dan juga memastikan sirkulasi udara di sekitar
kandang cukup baik dengan membuka ventilasi udara.
Dengan membuka
ventilasi udara yang membuat sirkulasi udara berjalan dengan baik hal itu akan
membuat perkembangan dari pada ulat ini akan sangat baik. Dan setelah masa
tidur selesai , ulat sutera akan bangun dan langsung makan sehingga kita harus
mempersiapkan pakan dari ulat sutera ini ketika ulat sedang tidur. Cara
perawatan lainnya adalah kita bisa memindahkan ulat sutera ketika sudah cukup
besar ke dalam ruangan baru yang memiliki suhu yang berbeda di sekitar 24 – 25
derajat celcius dengan tinggak kelembaban 70 % – 75% yang dimana pada ruangan
ini ulat akan berubah menjadi kokon.
Tahap inilah yang
dimana nantinya akan di jadikan bahan benang atau serat sutera. pengkokoan ini
biasanya berlangsung cukup lama sekitar antara 7 – 8 hari. Pola hidup dari ulat
sutera ini mulai dari telur yang kemudian nantinya akan meneteas menjadi ulat
kecil dan berkembang menjadi ulat besar memiliki waktu yang cukup singkat dan
berbeda-beda tergantung dari pada bagaimana kita merawat ulat sutera ini. Setelah
melewati masa itu ulat dewasa akan bermetamorfosis kembali menjadi pupa atau
yang sering kita sebut kepompong. Setelah melewati masa kepompong , ulat sutera
akan menjadi ngengat. Hal unik dalam proses perkembangan dari ulat sutera ini
adalah setiap siklus ataupun fase dari pada ulat mulai dari bibit sampai
ngengat , mereka akan melalui fase tidur atau istihat yang cukup lama sekitar 4
– 7 hari.
BAB III
PENUTUP
1.
Pengembangan budidaya
ulat sutera di areal KPHP Model Awota memiliki keunggulan potensi biofisik,
potensi lingkungan, pemasaran dan nilai finansial. Namun, kegiatan ini memliki
hambatan berupa persoalan kelembagaan utamanya sistem yang mengatur pengelolaan
budidaya ulat sutera dari sektor hulu ke sektor hilir.
2.
Sumber bibit yang
berasal dari Soppeng dengan kombinasi pemberian pakan daun murbei jenis M.
multicaulis memberikan hasil performa produksi kokon dan kualitas kokon yang
baik dipelihara di daerah tropis.
3.
Kepompong ulat sutra
atau disebut juga kokon, ternyata tengah diupayakan oleh tim peneliti untuk
dijadikan komponen utama obat penambah stamina. Ulat sutera pemakan daun
singkong itu dikembangkan di Kabupaten Wonogiri. Pengembangan ulat sutera jenis
samia cynthia ricini, memiliki nilai yang sangat strategis untuk meningkatkan
ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.
4.
Ada beberapa hal yang
perlu anda pahami ketika ingin beternak ulat sutera ini, yaitu perkembangan
dari pada ulat sutera ini membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk menetas yang
berbeda dengan Budidaya Ulat Hongkong . setelah menetas kemudian akan menjadi
ulat dan membentuk kepompong mentah.
5.
Produk dan manfaat dari
ulat sutera tersebut telah menghasilkan manfaat ekonomi dari segi prnghasilan
dan produksi, yaitu mudah dilaksanakan dan memberikan hasil dalam waktu yang
relatif singka dalam produksi dan budidayanya, memberikan tambahan pendapatan
kepada masyarakat khusunya di pedesaan, memberikan lapangan kerja bagi
masyarakat sekitarnya, mendukung kegiatan reboisasi dan penghijauan, dan manfaat
medis, yaitu ulat sutra yang digunakan untuk pengobatan tradisional China
adalah “Bombyx batryticatus” atau “ulat sutra kaku” (Hanzi sederhana,
tradisional: pinyin: āngcán).
DAFTAR
PUSTAKA
Endrawati. 2018. Produktivitas Ulat Sutera (Bombyx
mori L.) Ras BS-09 di Daerah Tropis. Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil
Peternakan. 06 (3) : 104 – 112.
Mas’ud. I., E. 2017. Potensi Pengembangan Budidaya
Ulat Sutera di Areal KPHP Model Awota. Jurnal Hutan dan Masyarakat. 9 (1) : 17
– 22.
Mutiara. 2017. Strategi pengembangan agribisnis Ulat
Sutera Pemakan Daun Sing-kong di Kabupaten Malang. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan.
27 (3) : 24 – 38.
Nurjayanti. 2011. Budidaya Ulat Sutera Dan Produksi
Benang Sutera Melalui Sistem Kemitraan Pada Pengusahaan Sutera Aalam (PSA)
Regaloh Kabupaten Pati. Jurnal Mediagro. 7 (2) : 1 – 10.

Informasi yang luar biasa
ReplyDeleteterimakasih dan semoga informasinya sangat bermanfaat
DeleteMakasih informasinyaa
ReplyDeleteheheheheee sama samaa dan semoga bermanfaat untuk andaaa hehehehe
DeleteSangat bermanfaat
ReplyDeleteterimakasih dan semoga bermanfaat untuk anda
DeleteBagus bang, nambah wawasanku
ReplyDeleteterimakasih datas komentarnya dan semoga anda puas dengan artikel saya
DeleteNtap
ReplyDeletenice wkwkwkwk
DeleteOk
ReplyDeletethank youuu
DeleteIt is good information thanks a lot for your article
ReplyDeletethank you and hopefully the article that I conveyed was useful and added to your insight
DeleteWow mengejutkann
ReplyDeleteterimkasih mudah mudahan bisa memuaskan anda dalam artikel yang saya ulas
DeleteWow mengejutkann
ReplyDeletethank you and hopefully the article that I conveyed was useful and added to your insight
DeleteGood👍
ReplyDeletethankyou rini
Deletethank you and hopefully the article that I conveyed was useful
ReplyDelete